Wednesday, July 18, 2007

MENGHARGAI PERJUANGAN ANAK PINGGIRAN

oleh : I. Sandyawan Sumardi

Ekspresi Perjuangan Anak Pinggiran
Anak-anak pinggiran diperhatikan, dihargai, diberi wahana untuk berekspresi dalam Festival Budaya dan Temu Rasa Anak Pinggiran JABODETABEK (FBAP 2007) tanggal 13-15 Juli 2007 di Taman Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat. Karena anak-anak itu telah bekerja, mandiri, kreatif, punya sifat kepemimpinan, dan telah menjadi korban struktur sosial-politik yang tidak adil, hak-hak asasinya dicerabut, namun tak patah juga, bahkan terus berjuang dengan sikap solidaritas dan pembelaannya yang ikhlas untuk teman-teman senasib, keluarga atau lingkungannya. Dari satu sisi kisah hidup anak-anak pinggiran sebenarnya tak teramat istimewa. Kecuali bahwa anak-anak ini rasanya semakin dekat memburu sanubari kita. Namun justru melalui FBAP 2007 ini, anak-anak pinggiran sepertinya tengah menggali tanpa ampun dunia batin dan jati diri kemanusiaan mereka sendiri. Dalam tuturan yang sederhana mereka melalui “Ekspresi Perjuangan Anak Pinggiran Melawan Keterbatasan”, kita jumpai problem manusia individualis, anak-anak kaum urban korban-korban kapitalisme dan paham modern tentang survival system. Dalam kisah ini cukup kuat direkam dan dilukiskan deformasi jiwa manusia kota, baik dalam psike individual, maupun dalam lembaga-lembaga keluarga, masyarakat, negara yang serba gundah dan terpecah. Anak-anak pinggiran adalah para pemberontak melawan deformasi jiwa yang membuat manusia mejadi hewan-hewan buas yang dilahirkan oleh sistem kebudayaan kota.
Dengan pertanyaan-pertanyaan berantai, kisah hidup anak pinggiran seakan mendakwa jiwa kita: siapa yang ternyata cukup mampu menjaga harga diri tak tunduk mengaduh runtuh? Siapa yang menjawab secara benar terhadap tuntutan-tuntutan saat nyata dan mendesak? Siapa berhasil menjaga keutuhan jiwa dalam kemelut peristiwa-peristiwa tragis? Dalam manusia-manusia macam manakah ternyata masih bertahan substansi manusia sejati? Dan manusia mana yang ternyata tidak hancur dan tetap tahan uji moralitas kemanusiaannya?
Anak-anak pinggiran dan teman-teman senasib seperjuangannya adalah bunga-bunga liar, serpihan-serpihan kusam kusuma bangsa yang tumbuh di dataran keras kehidupan urban. Tak pelak, kumpulan kisah-kisah perjuangan hidup mereka merupakan tradisi kecil, yang hampir dapat dikatakan sebagai hidden transcript (catatan terselubung). Demikian kalau sampai mereka mengekpresikan pengalaman yang tak terkatakan ini, pada dasarnya mereka tengah menggambarkan dan terkadang sekaligus melambangkan kritik-kritik halus dan nyaris tersembunyi mengenai kekuasaan, yang hanya dilontarkan atau diterjemahkan secara diam-diam ke dalam perbuatan, atau dalam alam pribadi. Kaum yang terlindas oleh kekuasaan (baca: para penentang kekuasaan) ini, cenderung menciptakan dengan sendirinya suatu wacana samar yang lokasinya, baik secara ideologis maupun geografis, jauh dari arena percaturan politik utama, dari jangkauan atau pengawasan yang berkuasa.

Mungkin ekspresi hidup mereka sehari-hari mereka adalah catatan-catatan kecil. Catatan kecil tak beraturan yang memang merupakan sebuah “nyanyi sunyi” tradisi kecil anak-anak pinggiran yang mencoba untuk bertahan, melawan dan sesekali mendobrak hubungan-hubungan subordinasi yang mengungkungnya. Perjuangan mereka adalah perjuangan manusia yang menciptakan ruang gerak sosial, merakit ideologi-ideologi alternatif, mengembangkan suatu sub-budaya ketidaksepakatan, menggalang solidaritas teman senasib-seperjuangan, dan mengasah teknik serta bentuk-bentuk perlawanan tidak langsung. Seluruh ekspresi perjuangan anak pinggiran dalam FBAP Jabodetabek 2007 ini pada dasarnya merupakan kesaksian tentang anak-anak rakyat kaum miskin urban, yang bertempur dalam iman manusia lemah tetapi jaya, yang tak pernah patah dan hancur nilai kemanusiaannya di tengah amukan massa zaman kejam serta penderitaan yang tak pernah usai, bagai badai salju di tundra-tundra Siberia. Terlampau pagi menyebut mereka pemberontak, terlalu dini usia mereka untuk mendobrak. Namun toh justru dalam situasi batas daya kemampuannya, dalam perjuangan mereka yang suntuk, bahkan di ujung ajalnya, mereka merasa perlu menggoreskan pesan, kendati dengan keringat, debu dan darah.. Segalanya telah dihimpun dan dipertaruhkan, segalanya telah dicurahkan dan diikhlaskan. Memang mereka seperti kalah, meradang, luka bahkan mati, namun kini mereka tidak lagi membisu. Mereka telah berteriak sunyi, tentang kemerdekaan yang demikian mereka rindu-rindukan. Dengan itu pula kasus mereka menjadi kasus kepahlawanan modern, justru dalam keterbatasannya menghadapi nasib itu. Keterbatasan di dalam titik tawakal. Sebab hidup kita, ternyata terbuat dari kematian orang-orang lain yang tidak membisu. Namun adakah pengalaman mereka dapat jadi jarum-jarum kecil penunjuk kemana arah pembangunan bangsa ini tengah digelandang-paksakan oleh para pemegang tampuk kekuasaan?


Cermin Retak Paradoks Zaman
Kisah Anak Pinggiran adalah sebuah cermin retak tentang sebuah paradoks zaman: di satu pihak ada kesewenang-wenangan yang brutal, kejam dan telanjang tanpa malu, di lain pihak kita masih dapat mendengar kesaksian-kesaksian otentik, betapa relatif dan fananya segala ideologi di hadapan inti dan esensi proses sejarah yang mengatasi kekerasan sebuah sistem politik. Inilah momentum untuk belajar, memperluas cakrawala pergulatan batin manusia, serta memperdalam pemaknaan sejarah manusia. Sejarah yang bukan sejarah institusional, yang de facto lebih ditentukan oleh kaum pemenang; kaum yang biasanya cenderung didukung atau mendukung ideologi, kebijakan atau pemerintahan resmi. Sejarah dalam Kisah Anak Pinggiran ini senantiasa mengisyaratkan sebuah perspektif yang berikhtiar untuk melakukan pelacakan kembali peristiwa-peristiwa “tradisi kecil” pada dataran hidup massa kebanyakan; yang membuat kita tidak mudah merayakan apa yang sering kita sebut peradaban sebagai lompatan-lompatan linear yang penuh keniscayaan, serba mutlak, tak bisa dipertanyakan lagi. Justru karena yang berada di atas timbangan adalah individu-individu atau massa yang berada di pinggiran lingkaran kekuasaan. Dan setiap kali kita membongkar apa yang cenderung dikubur oleh sejarah institusional, kita pasti akan berjumpa dengan nokhtah-nokhtah pengalaman dari mereka yang sering dianggap sebagai “kaum yang kalah”. Inilah sejarah sungai-sungai proses kesadaran dan pengolahan puncak-puncak atau jurang-jurang eksistensi manusia, baik dalam kekelaman derita maupun dalam bunga-bunga liar mekar bahagia dalam genangan rawa-rawa kehidupan nyata.


Sikap manusia yang meskipun sadar bakal digempur terus menerus, namun toh tetap berlenggang juang terus teguh dalam pergulatannya, pada hakikatnya adalah sikap religius. Bukankah kita tetap menyaksikan Paris, Tarini, Wawan, Yadi, Dodi dan Siti tetap menerawang pada awan-awan harapan di gerbang kehidupan mereka? Mereka tetap melihat pijar cahaya akhir, yang walau pun teramat jauh, membuat jiwa mereka tetap bertekad untuk hidup terus, merebut kehidupan sejati. Dan harapan sejenis ini, yang terekam dari teriakan panjang yang berpendar-pendar jauh merasuki relung-relung sukma sesamanya, ternyata hanya dapat disendikan pada dasar kepercayaan, bahwa memang benar-benar ada suatu Kebenaran Terakhir, suatu Keadilan Terakhir. Sehingga seluruh perjuangan itu toh punya makna. Nilai korban demikian tinggi. Kehendak untuk terus bertahan hidup dan berharap, meski kegelapan di sekeliling seolah tak memberi nafas harapan, adalah esensi dari sikap religius sejati. Sebab yang dituju religiositas sejati bukan dunia kaum pemimpi, bukan fatamorgana kosong, dan bukan rasionalitas belaka, melainkan benar-benar realitas nyata.
Ekspresi perjuangan anak pinggiran adalah kisah kaum kecil. Kaum yang dengan keyakinan tipis, menyerukan protes untuk didengarkan oleh kaum dewasa dan berkuasa. Dan karena itu jeritan protesnya bagai hewan terluka, mengaum sampai di ujung kematian. Semangat mereka adalah semangat melawan stigma, nujum dan nasib, meskipun ternyata kalah. Mereka kalah, oleh apa yang oleh orang Yunani disebut dike, rancangan takdir. Memang orang kecil adalah orang, yang pada akhirnya, terlalu sering kalah. Adakah karena adagium hukum alam itu kini tengah berlaku kembali, sebagaimana pernah dibisikkan Jean Paul Sartre (1905-1980), eksistensialis Prancis itu: “When the rich wage war it is the poor who die” (Apabila yang kaya mengobarkan perang, maka yang bakal mati adalah kaum miskin.)?


Religiositas Anak-anak Pinggiran
Kisah Anak Pinggiran akan membuat kita terjaga, betapa sejarah dunia senantiasa digenangi oleh berbagai inti perkara-perkara kemanusiaan: masyarakat terdiri dari tuan-tuan dan budak-budak. Namun juga berbagai macam sistem ideologi praktis, seperti kapitalisme yang mereka alami ternyata bukan penyelesaian yang pantas dirayakan, sebab di situpun skandal kuno kembali terulang: tuan-tuan menginjak-injak budak-budak. Tidak hanya dalam negara, tapi juga nyaris dalam seluruh dimensi kehidupan, ada benang merah sikap dan struktur tuan-budak itu. Sejak lahir dari kandungan dalam lingkungan keluarga, mereka telah diajari untuk tunduk, taat buta tanpa tawar-menawar. Namun dalam kenyataannya, otoritas lingkungan mereka tak pernah membuat mereka dewasa. Yang diciptakan adalah suasana ketakutan. Ketakutan pada otoritas kekuasaan adalah ketakutan yang purba, rasa ngeri dari sebuah zaman “pra-budaya”. Bisa jadi akarnya berupa sebuah trauma yang tersembunyi jauh dalam kesadaran kolektif kita: masa penjajahan. Sejarah tuan dan hamba, yang selama berabad-abad berlangsung gaduh di negeri ini, seperti halnya dialami beberapa negeri lain di Asia Tenggara lainnya.
Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dalam sejarah sebuah bangsa. Dan anak-anak pun akhirnya bakal mengerti: bahwa di atas sana ada mesin yang ingin membersihkan manusia dan jagad raya, menjadi “murni”. Bahwa yang mustahil telah dipaksakan, dan yang mustahil pun telah melahirkan yang buas, sewenang-wenang. Nampaknya persoalannya sederhana: bagaimana kekuasaan yang lahir dari uang dan bedil, bisa tunduk kepada sesuatu yang tak beruang dan berbedil. Tapi bukanlah yang demikian ini hanyalah sebuah masalah klasik? Klasik, tapi terus mengusik.
Demikianlah, dalam tataran religiositas, nampaklah seluruh hidup mereka dibayangi oleh rasa takut pada neraka, kepada hukuman Tuhan, yang tidak memungkinkan mereka menjadi manusia yang sadar yang bertanggungjawab atas sikap dan perilakunya sendiri. Oleh otoritas yang berkuasa, Tuhan telah dijadikan semacam tambal-sulam untuk menutup lubang-lubang kesulitan yang tak dapat dibereskan sendiri oleh manusia. Seakan Tuhan dijadikan tukang sulap pembuat mukjizat, untuk membereskan kerepotan-kerepotan yang dibuat oleh manusia sendiri. Namun justru dengan alam kesadaran yang teramat bersahaja, Paris, Tarini, Wawan, Yadi, Dodi dan Siti, tanpa sengaja telah mendobrak kungkungan ideologis semacam itu, justru dengan kesaksian-kesaksian hidup penuh perjuangan membangun survival system dalam komunitas-komunitas basis kehidupan mereka.
Situasi batas daya kemampuan hidup yang mereka hayati demikian intens, berupa kepungan noda stigma sosial-politis nan keji, tersingkir, “sendiri tanpa dunia”, “ditinggalkan bahasa”, hidup dalam kebisuan, dalam dunia tanpa nada, tanpa nasib, tanpa hubungan, tanpa hak untuk mencinta dan dicinta. Sebuah rangkaian bunga hitam serba “tanpa”. Namun justru di tengah genangan dunia penuh negasi inilah secara amat menakjubkan telah merasakan, mengalami perpaduan penuh gaib antara ruang-ruang dalam dan ruang-ruang luar di dalam rongga jiwa mereka. Dalam suntuk ketidakberdayaannya, mereka telah mengalami suatu kesadaran reflektif: rindu pulang kembali ke negeri asali mereka. Mereka toh tak sudi untuk terus menerus menjadi “orang luar” yang terbuang. Sebagai pejiarah yang menanggung dahaga hebat, mereka rindu untuk kembali menemukan oase perdamaian air kehidupan nan jernih. Damai, bukan berarti rujuk lepas dari egoisme, menghindari pertarungan survival of the fittest dalam dunia jalanan, dunia perkampungan kumuh mereka, tapi dalam makna metafisik individual, dalam makna tanggung jawab penuh sikap solidaritas antar sesama manusia. Dan lahirlah sebuah kesadaran baru, paling tidak sebuah dambaan: anak-anak manusia yang paling sekular liar sekAali pun, ternyata dapat dan mampu menghayati serta memberikan kesaksian tentang makna kehidupan religius yang amat mendalam.


Disarikan dari kata pengantar buku “Kisah Perjuangan Anak Pinggiran 1997”

No comments: